KEDWIBAHASAAN

Nama : Marsha Audina
Npm : 191214004
Mata Kuliah : Kedwibahasaan (UTS)
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia



KEDWIBAHASAAN




A. Asal Usul Kedwibahasaan.
    Kedwibahasaan merupakan kemampuan berbicara dan bahasa dengan baik. Kedwibahasaan juga dikatakan dengan pemakaian dua bahasa seperti bahasa nasional dan bahasa daerah dalam berkomunikasi untuk memperoleh gambaran yang jelas dari suatu informasi. 
Bahasa merupakan suatu sistem lambang bunyi yang arbiter, yang dipergunakan oleh masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri. (Kridalaksana di dalam Aslinda, 2010 : 1)
    
     Kedwibahasaan sangat berpengaruh di kehidupan sehari-hari, karena dengan mempelajari kedwibahasaan dapat mengembangkan kemampuan komunikasi sehingga dapat berkomunikasi dengan menggunakan dua bahasa, kemudian membantu kita dalam mengenal budaya asing, karena setiap bahasa memiliki tata cara budayanya masing-masing. Selain itu, dengan pandainya menggunakan dua bahasa mengembangkan kemampuan berpikir kritis kita untuk lebih kreatif dalam penggunaannya sehingga memiliki rasa percaya diri dan berani untuk berkomunikasi dengan dua bahasa. 

 Namun, jika tidak menguasai tentang kedwibahasaan maka kita tidak akan mampu mengerti bahasa asing atau bahasa selain bahasa daerah dan bahasa nasional, sehingga menunjukkan bahwa kita sebagai pelajar tidak mampu belajar bahasa. 

     Kedwibahasaan juga sangat mempengaruhi profesi kita nantinya, yaitu guru. Dimana kita menjadi seorang guru harus siap dalam hal apapun terutama menghadapi para peserta didik yang memiliki berbagai macam karakter dan bahasa. Dengan menggunakan kedwibahasaan dalam mengajar mampu menguatkan kompetensi peserta didik dalam berbahasa asing, salah satunya adalah bahasa inggris dan bahasa indonesia. Jika pun kita menjadi guru diluar dari daerah kita, maka sudah mampu berbahasa yang sama dengan daerah yang kita datangi. 

   Maka, kedwibahasaan sangat berperan penting dalam kehidupan pendidikan terutama bahasa indonesia, dengan itu dibentuklah kedwibahasaan untuk menciptakan masyarakat ataupun pelajar yang terdidik sopan dan santun, serta memiliki wawasan yang luas. 

B. Diglosia dan Kedwibahasaan. 


  Diglosia adalah suatu situasi bahasa dimana terdapat pembagian fungsi atas bahasa-bahasa yang ada di masyarakat. Dengan maksud dua bahasa baku dalam satu bahasa, dimana bahasa tinggi dipakai dalam suasana resmi sedangkan bahasa rendah dipakai untuk percakapan sehari-hari. 

     Diglosia sangat berpengaruh di kehidupan sehari-hari, karena kita mampu menuturkan bahasa yang baik dan sopan dengan mengedepankan fungsi sosial yang memakai ragam bahasa daerah. Seperti halnya jika kita menggunakan bahasa daerah, pastinya dengan masyarakat yang daerahnya sama, maka akan membangun suasana kekeluargaan dan keakraban. Sedangkan bahasa indonesia membangun suasana resmi, formal, kenasionalan yang biasa dipakai pada saat di sekolah, tempat kerja, ataupun tempat ibadah. 

    Namun, jika kita tidak mengetahui diglosia, maka kita tidak mampu berbahasa yang baik dan benar dalam situasi yang berbeda. Bisa saja kita berbicara dengan bahasa sehari-hari namun sedang berada dalam suasana formal, maka akan terlihat tidak sopan. 

    Diglosia sangat berperan penting untuk profesi kita nantinya, yaitu guru. Selain mengajarkan ilmu tentang diglosia, kita juga mampu menerapkan pada diri sendiri seperti mengajar di sekolah menggunakan bahasa baku, namun pada saat di rumah menggunakan bahasa daerah. Maka, diglosia sangat berperan penting di dunia pendidikan, terutama bahasa indonesia, selain mengajarkan fungsional bahasa juga memberi wawasan luas untuk lebih aktif menggunakan bahasa baku sesuai tempat ataupun suasananya. 

C. Konsep Faktor dan Pendekatan Kedwibahasaan. 

     Era globalisasi yang semakin berkembang menuntut kemampuan semua bangsa untuk ikut bersaing dengan negara lain, termasuk kesiapan sumber daya manusia yang tentu saja harus disiapkan sejak dini dengan berbagai upaya dan sesuai dengan perkembangan zaman. 
Masyarakat Indonesia pada umumnya tergolong masyarakat dwibahasa. Mereka menguasai bahasa pertama (B1) yaitu bahasa daerah dan bahasa kedua (B2) yaitu bahasa Indonesia. Asumsi ini didasarkan pada kenyataan bahwa di negara ini bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang telah menjadi bahasa pengantar wajib di setiap tingkat sekolah di seluruh Indonesia. 

Adapun sebab-sebab terjadinya kedwibahasaan antara lain:

1. Adanya bermacam-macam suku bangsa atau bahkan bermacam-macam bangsa membentuk satu negara.
2. Berbagai bangsa bercampur karena menetap disuatu negara.
3. Berbagai bangsa bercampur karena menetap disuatu negara daerah baru yang jauh dari asal negara mereka masing-masing.
4. Sebagian bangsa-bangsa yang berbeda yang secara kebetulan mendiami tempat dan tempat itu berdekatan lokasinya dengan daerah bangsa-bangsa yang bersangkutan.
5. Dari gerak dan lelincahan para penutur dari keduabahasa yang ada di daerah tersebut. Dua bahasa yang saling mempengaruhi kadang-kadang menunjukan arah pengaruh yang tidak selamanya seimbang.

     Pendekatan kedwibahasaan merupakan salah satu perangkat penguat karakter kebangsaan. Bahasa Indonesia yang berkedudukan sebagai bahasa nasional telah berhasil menyatukan warga bangsa dari berbagai latar belakang etnik, budaya dan bahasa ke dalam satu guyub tutur (komunitas bahasa).

     Dari penjelasan di atas, sangat berperan penting dalam kehidupan sehari-hari, karena dengan mengetahui konsep bahkan pendekatan kedwibahasaan, kita mampu menerapkannya dan memahami berbagai macam suku bangsa yang bercampur sehingga menciptakan bangsa nasional yang terkumpul dalam suatu komunitas bahasa. 

     Namun, jika tidak memahami hal tersebut terjadilah peperangan antara bangsa satu dengan bangsa lainnya yang tidak mengerti dengan bahasa yang di lakukan karena tidak memahami tindak tutur yang baik kepada orang asing.

     Materi itu juga berperan penting untuk profesi kita nanti, yaitu guru. Selain mengajarkan masyarakat untuk mempelajari kedwibahasaan, juga menjadi pelajaran untuk diri sendiri karena kita harus mampu mengubah diri kita sendiri dulu untuk mencerminkan kepada orang lain dengan memperkenalkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing atau bahasa daerah lainnya, sehingga menyatukan warga bangsa satu dengan bangsa lainnya. Maka, kedwibahasaan sangat berperan penting dalam kehidupan, selain mengajarkan bahasa juga membangun karakter bangsa yang saling peduli satu sama lain.

D. Faktor Kebahasaan dan Non Kebahasaan. 

     Faktor kebahasaan yaitu faktor-faktor yang menyangkut masalah bahasa yang seharusnya dipenuhi pada waktu seseorang berbicara. Faktor kebahasaan meliputi ketepatan ucapan, intonasi, pilihan kata/diksi. Faktor non kebahasan, meliputi sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku, mimik/gerak-gerik, kenyaringan suara, kelancaran dan penguasaan topik. 
Faktornya antara lain : 
- Ketepatan Ucapan
   Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa bhsecara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat, dapat mengalihkan perhatian pendengar, kebosanan dan kurang menyenangkan. 

- Penempatan Tekanan, Nada, dan Durasi yang Sesuai
   Kesesuaian tekanan, nada, sendi, dan durasi akan merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara. Bahkan kadang-kadang merupakan faktor-faktor penentu walaupun masalah yang dibicarakan kurang menarik, dengan penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai.

- Ketepatan Sasaran Pembicaraan
   Semua ini menyangkut kalimat. Pembicara yang menggunakan kalimat efektif akan memudahkan pendengar menangkap pembicaraannya.

Faktor Non Kebahasaan antara lain : 
- Sikap yang Wajar, Tenang, dan Tidak Kaku
Sikap yang wajar oleh pembicara sudah dapat menunjukkan otoritas dan integritas dirinya. Tentu saja sikap ini sangat banyak ditentukan oleh situasi, tempat, dan penguasaan materi. 

- Kesediaan Menghargai Pendapat Orang Lain
   Seorang pembicara hendaknya dalam menyampaikan isi pembicaraan memiliki sikap terbuka dalam arti dapat menerima pendapat pihak, bersedia menerima kritik, bersedia mengubah pendapatnya kalau ternyata memang keliru.

- Gerak-gerik dan Mimik yang Tepat
   Gerakan-gerakan dan mimik yang tepat dapat pula menunjang keefektifan berbicara. Hal-hal yang penting selain mendapat tekanan, biasanya juga dibantu dengan gerak tangan atau mimik hal ini dapat menghidupkan komunikasi. Tetapi gerak-gerik yang berlebihan akan mengganggu keefektifan berbicara sehingga kesan kurang dipahami.

- Kenyaringan Suara
   Tingkat kenyaringan ini disesuaikan dengan situasi, tempat, jumlah pendengar dan akustik tetapi perlu diperhatikan jangan berteriak. Kita antara kenyaringan suara kita supaya dapat didengar oleh semua pendengar dengan jelas, dengan juga memuat kemungkinan gangguan dari luar.

- Kelancaran
   Kelancaran berbicara akan memudahkan pendengaran menangkap isi pembicaraannya. Selain itu berbicara yang terputus-putus bahkan menyelipkan bunyi ee, oo, aa dapat mengganggu penangkapan pendengaran, dan sebaliknya pembicara yang terlalu cepat berbicara juga akan menyulitkan pendengar menangkap pembicaraanya.

- Relevansi atau Penalaran
   Proses berfikir untuk sampai pada suatu kesimpulan haruslah logis yang meliputi berbagai gagasan. Hal ini berarti hubungan bagian-bagian dalam kalimat, hubungan kalimat dengan kalimat harus logis dan berhubungan dengan pokok pembicaraan.

- Penguasaan Topik
   Dalam pembicaraan formal selalu menuntut persiapan. Tujuannya tidak lain supaya topik yang dipilih betul-betul dikuasai. Pengusaan topik yang baik akan menumbuhkan keberanian dan kelancaran. Jadi penguasaan topik ini sangat penting bahkan merupakan faktor utama dalam berbicara.

     Kebahasaan sangat berperan penting dalam kehidupan sehari-hari, jika tidak menggunakan bahasa bagaimana kita akan saling berkomunikasi? Namun kita juga harus mengetahui faktor kebahasaan seperti apa yang harus kita pelajari, mulai dari sikap, tata bahasa, intonasi suara, bahkan kesediaan menghargai pendapat orang lain. Maka tumbuhlah rasa nasionalisme yang tinggi dan terus menjunjung tinggi bahasa indonesia. 
Namun, jika tidak mampu menerapkan hal itu, maka tidak mudah untuk kita bergaul dengan masyarakat yang banyak, karena tidak mampu menciptakan suasana komunikasi yang baik ataupun nyaman, sehingga orang lain merespon sikap kita itu masih tidak sopan. Maka dari itu, kebahasaan sampai sekarang harus masih dipelajari. 

     Keterkaitannya dengan seorang guru sangatlah berpengaruh, apa lagi kita seorang guru harus memberikan contoh yang baik kepada peserta didiknya, mulai dari sikap, bahasa, bahkan tindak laku yang biasa kita lakukan di depan peserta didik. Maka, kebahasaan sangat berperan penting dalam kehidupan kita, karena sama-sama menguntungkan baik untuk orang lain maupun untuk diri sendiri.

Komentar

  1. Sangat bermanfaat dan bisa nambah wawasan 🥰

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas penjelasannya sangat bermanfaat 🥰

    BalasHapus
  3. Sangat bermanfaat terimakasih

    BalasHapus
  4. Sangat bermanfaat, terima kasih 🥰

    BalasHapus
  5. Hasilnya bagus terus tingkatkan ya

    BalasHapus
  6. Bagusss dn mudah di mengerti👍

    BalasHapus
  7. Materinya sangat muda dipahami dan sangat membantu

    BalasHapus
  8. Materinya mudah dipahami dan sangat membantu

    BalasHapus
  9. Materi mudah di pahami dan sangat menarik

    BalasHapus
  10. Mudah di pahami, materi sangat membantu

    BalasHapus
  11. Cukup bagus, bahasa nya juga mudah dipahami

    BalasHapus
  12. Bagus dan materinya mudah dipahami

    BalasHapus
  13. Blog ini menarik dan sangat membantu untuk menambah wawasan saya👍

    BalasHapus
  14. Terimakasih untuk materi yang disampaikan.. Sangat bagus untuk menambah wawasan

    BalasHapus
  15. Sangat bermanfaat, dan butuh perjuangan untuk melihat blog ini🤗👍

    BalasHapus
  16. Terimakasih info nyaa, sangat membantu..

    BalasHapus

Posting Komentar